Connect with us

News 11

Tagihan Siaran Liga Inggris di TVRI, Menjadi Tanggung Jawab Helmi Yahya

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Kisruh TVRI, kini memasuki ranah hukum. Helmy Yahya yang diberhentikan dari jabatannya sebagai Direktur Utama LPP TVRI pada 16 Januari 2019 dikabarkan akan melayangkan surat gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN).

Sementara itu, Dewas telah menunjuk tim pengacara, Partahi Sihombing dan Dwiheri Sulistiawan sebagai kuasa hukum.

Sulistiawan mengatakan, pada saat keluar surat keputusan yang definitif pada 16 Januari 2020, pada saat itu pula jabatan sebagai Direktur Utama berhenti secara tetap. Namun segala sesuatu yang terjadi selama menjabat, masih harus dipertanggungjawabkan.

“Inilah yang sekarang kami sedang godog,” ujar Sulistiawan didampingi Partahi Sihombing dalam wawancara di Gandaria City, Selasa (28/1).

Sulistiawan menambahkan, bahwa salah satu alasan Dewas memberhentikan Helmy Yahya terkait dengan masalah keuangan. Helmy Yahya dinilai tidak tertib dari sisi anggaran.

“Perlu saya clear-kan bahwa Dewas terhadap Liga Inggris enggak ada masalah. Jadi, jangan dibenturkan seolah-olah Dewas tidak pro Liga Inggris. Ini salah besar. Yang Dewas tidak pro adalah penganggarannya, karena ternyata berbahaya,” pintanya.

“Jangan dibenturkan, seolah-olah Dewas tidak pro Liga Inggris,” pinta Sulistiawan (kiri) didampingi Partahi Sihombing selaku Tum kuasa hukum Dewas TVRI

Liga Inggris, lanjut Sulistiawan, pada awal dipromosikan direksi kepada Dewas, dinyatakan sebagai barter. Artinya, TVRI tidak mengeluarkan dana sepeserpun. Dewas pun menyatakan salut. Tapi apa yang terjadi? Ternyata siaran itu berbayar.

Terbukti, pada tanggal 16 November 2019 ada tagihan dari PT GMV (Global Media Visual) yang membawahi Mola TV, sebesar Rp 27 Miliar. Selanjutnya pada bulan Maret 2020 mendatang, ditagih lagi sebesar Rp 21 Miliar.

Itu baru tagihan pertama dan kedua. Kalau ditotal tagihan untuk 3 musim Liga Inggris mencapai sekitar Rp120 Miliar. “Semuanya belum dibayar. Pertanyaannya? Ini mau dibayar pakai apa? Dan Darimana?” kata Sulistiawan mempertanyakan.

Pasalnya, penganggaran di TVRI untuk tahun 2020, sudah diputuskan pada tahun 2019. Demikian pula, penganggaran untuk tahun 2021 sudah diputuskan pada tahun 2020. Setiap penganggaran tersebut harus mendapat persetujuan Dewan Pengawas.

“Sekali lagi, Dewas tidak pernah memberikan persetujuan. Dewas hanya diberitahu. Inilah yang sedang kami kaji. Apakah ini masuk pidana umum ataukah pidana korupsi. Semua sedang kami persiapkan, tunggu saja” pinta Sulistiawan.

Terkait tagihan sebesar Rp 120 Miliar yang harus dibayarkan TVRI kepada PT GMV untuk penayangan Liga Inggris selama 3 musim, menurut Partahi Sihombing, menjadi tanggung jawab pribadi Helmy Yahya, karena telah melakukan kerja sama tanpa persetujuan Dewas TVRI.

“Memang Helmy Yahya sebagai direktur utama, tapi yang namanya kerja sama dengan pihak lain, termasuk untuk PT GMV, seharusnya wajib dapat persetujuan dari Dewas. Karena tidak ada persetujuan, maka hutang itu menjadi tanggung jawab Helmi Yahya,” pungkas Partahi Sihombing. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News 11

Orang Baik dan Bijak Itu Telah “Terbang” Untuk Selamanya. Selamat Jalan Jakob Oetama

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Pamulang. Rabu (9/9/2020) pukul 13.05 di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, pendiri Kompas Gramedia, Dr ( H.C) Jakob Oetama, menghembuskan nafas terakhir di usia 88 tahun, karena penyakit usia tua.

Lelaki kelahiran Magelang, 27 September 1931 — kerap di sapa JO ini sukses mendirikan ” kerajaan” bisnis dunia pers, meski langkah awal kariernya sebagai guru.

Dan perusahaannya beranak pinak, aneka produk koran, tabloid, majalah dan buku buku merajai suplai kebutuhan penikmatnya. Usahanya pun merambah ke dunia perhotelan yang tersebar di kota kota besar NKRI, juga pabrik seperti, pabrik tisu. Dan di dunia pendidikan, berdiri Universitas multi media.

Meski demikian, JO berpenampilan bersahaja — jika tak dibilang sederhana, ia lebih suka di sebut sebagai wartawan, ketimbang pengusaha, konglomerat yang sukses —- meski mempunyai karyawan lebih dari 20 ribu SDM.

Kini, orang baik yang bijak, pernah mendapatkan penghargaan bintang maha putera dari Presiden Soeharto telah berpulang untuk selama lamanya. Di makamkan Kamis ( 10/9. 2020) di Taman Makam Pahlawan, Kalibata secara militer, dengan komandan upacara mantan wakil Presiden, Yusuf Kalla.

Warisan yang ditinggalkan sebagai tokoh pers nasional, bukan sekadar “pena tajam”, lebih dari itu, yang selalu dijunjung tinggi oleh JO, tak lain kejujuran, integritas dan kemanusiaan.

Ini lah yang menjadi konsen JO via Kompas selama hidupnya, agar menularkan kebaikan demi kebaikan bagi masyarakat banyak.
Selamat jalan, Pak Jakob Oetama. Semoga penerus Kompas Gramedia tak kehilangan ‘kompas’ dan mampu menjawab tantangan zaman.
( Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Aktivitas Humaniora Foundation dan Artis Pendukung

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Depok
Melalui aksi sosial “Misi Kemanusiaan Universal – Barang Bekas Menolong Sesama” Humaniora Foundation secara rutin mengumpulkan sumbangan barang bekas dari masyarakat dan barang milik artis. Sumbangan tersebut langsung disumbangkan dan sebagian dijual. Dari hasil penjualan dananya juga disalurkan untuk diberikan kepada para dhu’afa, fakir miskin, anak yatim, piatu, janda lanjut usia, dan pemulung.

Humaniora Foundation melalui Sanggar Humaniora membimbing ratusan siswa, pelajar mahasiswa, anak-anak dan remaja putus sekolah yang dididik informal melalui pendekatan seni peran dan budi pekerti secara gratis.

Melalui Rumah Singgah Bunda Lenny, Humaniora Foundation, telah melakukan aksi sosial ratusan kali, baik peduli sosial, santunan yatim dan dhua’fa, membantu korban bencana banjir, tanah longsor, kebakaran, serta pelayanan pendidikan non-formal.

Humaniora Foundation membina ratusan pemulung, fakir miskin, dan anak yatim, non-panti yang tersebar di dua rumah singgah, Bekasi (Jakarta), dan di Baleendah Bandung.

Sejumlah artis dan selebriti yang pernah membantu yayasan ini, antara lain; Yati Surachman, Pong Hardjatmo, Ray Sahetapy, Iwan Burnani, Ageng Kiwi, Iwan Fals, Krisdayanti, Raffi Ahmad, Deddy Corbuzier, Yuni Shara, Inul Daratista, Mayangsari, Nikita Willy, Anisa Bahar, Juwita Bahar, Tiara Bahar, Nini Karlina, Fitri Karlina, Della Puspita, Ratu Bidadari, Ratna Listy, Krisna Mukti, Ayu Azhari, Marshanda, Eddies Adelia, Iis Dahlia, Ike Nurjanah, Misye Arsita (almarhumah), Pretty Asmara (almarhumah), Mella Yong (almarhumah).

Pebrio A. Ryan, Dean Desvi, Lia Emilia, Renny Agustine, Five V. Rachmawati, Irma Darmawangsa, Lisda Oktavianti, Irfan Sebastian, Livi Andriany, Aksay, Ratna Pandita, Lia Bulmat Raeshard, Ferly Putra, Adeliyana Indahsari, Meca Alba, Ratu Eva, Chan Kwie, Iqbal Perdana, Roman D. Man, Alfian Kadang, Grup Vokal ‘LAKI’, Dina ‘Sabun Colek,’ Suryandoro, Eny Sulistyowati, Gebby Pareira & Qonita, Gubernur Band, pianis Dhikapatrick, ustadz Ferdy Husainy, ustadz Wahyudin Yuha, ustadz Rizal Fauzi, serta tokoh spiritual Panglima Langit, dan para donatur lainnya.

Beberapa lembaga manajemen artis, seperti Nagaswara Music, Artis Manajemen *Positif Art, Sanggar Swargaloka, Triardhika Production, Forum Wartawan Hiburan (FORWAN) Indonesia, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN), dan organisasi lainnya, juga pernah turut membantu kegiatan sosial yang dilaksanakan Humaniora Foundation.
(Zar/KH)

Continue Reading

News 11

Sekolah Kemanusiaan

Published

on

By

Kabarhiburan.com Depok
25 tahun usia Humaniora Foundation menjadi momentum bagi arah dan perkembangan lembaga ini untuk meningkatkan apresiasi kemanusiaan melalui program yang disebut Sekolah Kemanusiaan.

Sekolah Kemanusiaan menurut Eddie Karsito, selaku pendiri — adalah institusi non-formal, wadah asah, asih, asuh, melalui cara-cara kesenian. Programnya mengarah pada pembinaan mental spiritual, pendidikan budi pekerti, kepemimpinan, dan nasionalisme — kebangsaan.

Sekolah Kemanusiaan, adalah gerakan dan kajian populer dalam perspektif budaya; perilaku sosial, dan pandangan hidup. Belajar menjadi manusia seutuhnya; memanusiakan manusia.

Lembaga ini diharapkan oleh pendiri dan pengurusnya dapat melahirkan pandu budaya, ” Khususnya dari generasi millennial; kids zaman “now”; gaul, kekinian; smart IT, memiliki perspektif masa depan sebagai generasi yang aktif, kreatif, inovatif, profesional, mandiri, empati, dan keelokan budi pekerti,” harap aktor serba bisa yang pernah mendapat penghargaan sebagai Aktor Pemeran Pembantu Pria Terpuji Festival Film Bandung (FFB) 2008 ini.

Kegiatan pendidikan formal dan non-formal yang diselanggarakan oleh Humaniora Foundation secara gratis, menyelenggarakan berbagai kajian sosial budaya, dalam bentuk seminar, workshop, diskusi, pelatihan jurnalistik, pelatihan seni peran, maupun pendidikan sinematografi.

Hal ini pernah dikerjasamakan dengan RCTI dan institusi lainnya Humaniora Foundation menggelar ”Lomba Foto Masjid Waris Tamadun Islam (1996),” bekerjasama dengan Tabloid Hikmah memproduksi “Kuis Insan Cita TPI” (1995) dan “Kuis Ramadhan” SCTV (1996). Dengan Yayasan Ar-Rahmah menggelar “Tabligh Akbar” di Stadion Utama Senayan Jakarta (2001).

Tahun 2003 Humaniora Foundation ikut memprakarsai “Pameran Seni Rupa Film Indonesia” dalam rangka Hari Film Nasional bekerjasama dengan Komunitas Pecinta Film Indonesia, Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) dan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia. Tahun 2008 bekerjasama dengan PT. Cahaya Insan Suci menerbitkan buku “Menjadi Bintang – Kiat Sukses Jadi Artis Panggung, Film dan Televisi.”

Humaniora Foundation, melahirkan banyak sineas yang kini menempati posisi penting di industri perfilman dan pertelevisian di tanah air, baik sebagai aktor, aktris, penyanyi, musisi, penulis skenario, sutradara dan praktisi pertelevisian. Sebagian lainnya ada yang menjadi wartawan media cetak, radio dan televisi, pembawa acara, presenter dan pembaca berita televisi (Zar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending