Connect with us

Film

Talkshow JHSF 2020: ‘Mana Lebih Horor, Rumah Berhantu atau Hutan Angker?’

Published

on

Suasana Talkshow JHSF, creative director Teguh Yuswanto dan Bismar Yogawa mengapit Shandy Gasella dan Maya Yuniar.

Kabarhiburan.com – Talkshow Jakarta Horror Screen Festival (JHSF) 2020 sudah berlangsung sejak awal pandemi, kini sudah menyelesaikan episode 16.

Pada episode terakhir ini, Creative Director Teguh Yuswanto, menghadirkan artis Maya Yuniar dan kritikus film Shandy Gasella. Mereka membahas tema Mana Lebih Horor, Rumah Berhantu atau Hutan Angker?

Film horor seringkali memanfaatkan rumah dan hutan sebagai lokasi syuting. Keduanya akan sama menariknya bagi penonton, jika cerita yang dikemas mampu menawarkan ketakutan bagi penonton.

“Menurut saya, kalau ngomongin set film horor dengan lokasi rumah atau hutan. Keduanya bisa sama-sama menakutkan, atau malah keduanya sama-sama enggak menakutkan, tergantung cerita,” ujar Shandy Gasella yang ditemui di studio Zonmer,  kawasan Jalan Bangka, Jakarta Selatan, Kamis (17/12).

Selain cerita, lanjut Shandy, kehadiran setting atau latar belakang memiliki peran yang vital dalam sebuah film horor. Artinya, jika latar belakang digarap apik, maka filmnya secara keseluruhan akan menarik.

“Misalnya, kita mesti simpati dulu dengan karakter protagonisnya. Siapa dia, sejak awal cerita sebaiknya dijelaskan. Lalu, konfilk yang dialami seperti apa? Kenapa kita merasa khawatir terhadap karakter tersebut. Kalau itu enggak dibangun, menurut saya, enggak ada bedanya, mau terornya ada di rumah atau di hutan,” ujar Shandy merinci.

Baginya, setting film horor juga punya peran penting menjaga stabilitas emosional penontonnya.

Sementara itu Maya Yuniar mendasarkan pendapatnya pada pengalamannya main dalam film horor Kuntilanak Cilwung (2014) juga menggunakan set rumah untuk memperbanyak scene teror.

“Saat itu aku berperan jadi kutilanak, yang banyak meneror penghuni rumah. Aku juga ada scene di sungai Ciliwung,” kenangnya.

Maya menceritakan kejadian yang ganjil selama kegiatan syuting, yakni mendadak lampu padam saat mau take. Kejadiannya berlangsung sampai sepuluh kali.

“Terus ada warga yang kebetulan faham dengan wilayah tersebut, kasih tahu agar menyiapkan kopi pahit dan rokok kretek buat ‘penunggunya’. Begitu katanya,” kenang bintang film Kuntilanak Ciliwung dan Mangga Muda itu.

Kejadian serupa sering kita dengar saat melakukan pengambilan gambar di lokasi yang tertentu.

Jadi, Mana Lebih Horor, Rumah Hantu atau Hutan Angker sangat bergantung pada cerita film dalam menyampaikan pesannya.

Jika bangunan cerita digarap maksimal dan menarik, maka film horor dengan latar belakang cerita hutan angker maupun rumah berhantu tersebut sukses menghibur penontonnya.

Penonton akan sangat terhibur jika film horor itu betul-betul klimaks membuat ketakutan, kengerian, kegaduhan, selama plot cerita masih kompromi dengan akal sehat. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Band The Panturas Rilis Film Pendek ‘All I Want’

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Band surf-sock asal Jatinagor The Panturas pamerkan kapasitasnya yang berbeda dari band lainnya. Alih-alih membuat video musik untuk single berikutnya, Abyan Nabilio (Acin), Surya Fikri (Kuya), Bagus Patrias (Gogon) dan Rizal Taufik (Ijal), malah menerobos kebiasaan baru lewat besutan film pendek.

Idenya dicetuskan oleh sutradara Khemod, selanjutnya The Panturas melempar topik pembunuhan, dengan basis khayalan mengadaptasi kasus Setiabudi 13, tahun 1981.

“Setiabudi 13 adalah kasus yang masih misteri hingga hari ini. Siapa pembunuhnya, apa motifnya, kenapa bisa seperti itu, tidak ada yang pernah tahu. Karena ada area abu-abu tersebut, kami berpikir menarik jika kami bersama Khemod membuat cerita fiksi dari kejadian nyata tersebut,” ujar drummer Surya ‘Kuya’ Fikri Asshidiq dalam keterangan resmi, Jumat (24/9).

Film pendek ‘All I Want’ mengekspos kisah balas dendam berbalut asmara milik seorang perempuan bernama Ida kepada seorang tukang jagal, pembunuh orang tuanya yang dituduh antek PKI pada masa pemberangusan komunis tahun 1965.

Pemilihan terhadap situasi 1965 ditekankan secara berbeda oleh vokalis dan gitaris Abyan ‘Acin’ Zaki Nabilio dalam lagu ‘All I Want’, yang ditulisnya berdasarkan pengalaman pribadinya mendekati seorang perempuan.

Film ini dibintangi oleh para aktor dan aktris ternama, yakni Prisia Nasution, Dimas Danang dan Tio Pakusadewo.

Manajer The Panturas, Iksal R. Harizal menyebut film pendek sebagai formula eksperimen baru yang tepat untuk mengenalkan lagu The Panturas, setelah sebelumnya mencoba hampir semua hal dalam menangani video musik.

“The Panturas tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah hati. Makanya kami mengajak orang-orang terbaik di bidangnya,” ujar Iksal.

Film pendek ‘All I Want’ sudah bisa dinikmati melalui saluran ofisial YouTube The Panturas mulai tanggal 24 September 2021. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Mulai 17 September, Film ‘Detak’ Versi Director’s Cut Tayang di Bioskop Online

Published

on

By

Fillm ‘Detak’ tayang terbatas di Bioskop Onlne mulai 17 September mendatang. (Foto: Instagram)

Kabarhiburan.com – Sukses meraih berbagai penghargaan di berbagai festival film mancanegara, tiba saatnya film Detak dinikmati lewat layanan TVOD streaming Bioskop Online.

Film Detak merupakan versi director’s cut Tarian Lengger Maut, akan ditayangkan mulai Jumat, 17 September hingga 3 Oktober 2021 mendatang.

Sebelum sampai ke sana, sutradara Yongki Ongestu dan produser Aryanna Yuris mengadakan virtual media gathering, menghadirkan aktor Refal Hady dan aktris Alyssa Abidin. Hadir pula, Gupta Gautama, selaku Head of Content Bioskop Online, pada Selasa (14/9).

Yongki Ongestu menjelaskan film ‘Detak’ telah meraih aneka penghargaan di berbagai festival film mancanegara. Sukses tersebut mendorong tim produksi film ‘Detak’ untuk menayangkan penyuntingan akhir berdasarkan keinginan sutradara, agar bisa dinikmati masyarakat luas.

“Versi ini adegannya lebih detail dan proses pengenalan dan pendalaman karakter lebih panjang. Kami juga menggunakan treatment yang berbeda” ujar Yongki Ongestu berpromosi.

Salah satu treatment yang dimaksud adalah previsualization atau penggambaran adegan sebelum syuting dengan membuat animasi film secara utuh. Selain, masih ada treatment psychology of colour, yakni menyoroti perubahan karakter melalui gerakan kamera dan palet warna.

“Kami berharap, versi ini bisa dinikmati penonton. Versi sinemanya sudah tayang di bioskop offline. Sedangkan versi festival akan tayang di bioskop online,” jelas produsernya, Aryanna Yuris.

Film ‘Detak’ bercerita tentang profesi dokter yang memiliki status sosial yang tinggi di mata masyarakat. Dokter Jati (Refal Hady) paham betul statusnya tersebut, saat tiba di desa Pagar Alas sebagai penyembuh serta rajin menolong warga desa.

Seiring kehadirannya, muncul sebuah misteri di desa tersebut. Satu per satu warga menghilang dan jasadnya ditemukan tanpa jantung.

Detak jantung dr. Jati pun jadi tidak beraturan karena berjumpa seorang perempuan desa bernama Sukma (Della Dartyan), dalam masa penahbisan menjadi Penari Lengger, seni tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Apa sebenarnya yang terjadi di desa Pagar Alas? Yang lebih penting lagi, apa yang terjadi diantara dr. Jati dan Sukma?

Saksikan film Detak mulai 17 September hinga 3 Oktober 2021, dengan harga tiket presale terbatas Rp 25.000. Tiket sudah bisa diperoleh melalui website www.bioskoponline.com. Aplikasinya bisa  diunduh melalui App Store dan Google Play Store. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Main Sinetron Kolosal ‘Angling Dharma’, Intan Permata Jadi Istri Mahapatih Batik Madrim

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Selebgram sekaligus model, Intan Permata, sedang berbahagia. Ia mendapat tawaran seni peran di sebuah sinetron kolosal berjudul ‘Angling Dharma‘. Sinetron ini yang tayang platform OTT Maxstream.

“Aku nggak nyangka di musim pandemi Covid-19, disaat panggung hiburan lagi sepi karena masih PPKM, aku syuting sinetron kolosal,” tutur Intan Permata, Selasa (14/9/2021).

Artis bertubuh seksi ini memerankan tokoh protagonis sebagai Dewi Kusuma Gandawati istri dari Mahapatih Batik Madrim, yang merupakan orang kuat nomor dua di Kerajaan Malawapati.

“Jadi ceritanya jadi isteri seorang Mahapatih yang cantik, anggun, penyabar, penyayang dan mudah khawatir dan memang karakter bangsawan banget,” ungkap Intan Permata.

Intan Permata mengaku dirinya senang melakukan adegan berbahaya seperti silat dan bertarung.

“Nggak takut kulit terbakar, semisal syuting diluar ruangan atau luka memar sekalipun ya, karena memang bakat akting atau bakat di dunia seni kan harus totalitas juga,” jelas Intan Permata. (ts)

Continue Reading
Advertisement

Trending