Connect with us

Event

Tarik Ulur Soal Undang Undang Penyiaran

Published

on

Kabarhiburan.com  – Cisarua. Sejauh ini, para pelaku bisnis di bidang pertelevisian dan variannya yang menggunakan frekuensi di Indonesia berpayung hukum pada Undang Undang Penyiaran, bernama Undang Undang nomer 32 Tahun 2002, tentang penyiaran.

 Undang undang tersebut mengatur tentang prinsip prinsip penyelenggaraan penyiaran yang berlaku di Indonesia.

Nah, Undang-undang tersebut, kini  memang sudah usang, karena tak relevan lagi untuk mangakomudir kemajuan teknologi yang berkembang pesat. Kedepannya, televisi tak lagi analog, melainkan sudah digital

 Penggodokan undang undang penyiar di DPR pun, seolah mandek sejak tahun 2009 hingga kini. Ada apa? Kenapa? Ternyata, antara pemerintah dan pihak swasta masing masing punya kepentingan.

 Setidaknya, inilah yang diangkat dalam Semiloka 2017 Gonjang Ganjing Undang Undang Penyiaran yang selanggarakan oleh Forum Wartawan Hiburan Indonesia (Forwan) dan PWI Jaya di Wisma Agramulya, Cisarua, Bogor,  Selasa (12/12)

Pasalnya, dalam draf RUU Penyiaran versi 3 Oktober 2017 lalu, sudah termuat ketentuan bahwa model migrasi dari penyiaran analog ke digital yang akan dijalankan adalah multiplekser tunggal (single mux) dengan Lembaga Penyiaran Publik (TVRI/RRI)  bertindak sebagai penyelenggara multiplekser.

Disamping konsep multi-mux dianggap merugikan negara karena berdasarkan sebuah analisis pendapatan swasta dari industri penyiaran mencapai Rp 133 triliun per tahun, sementara potensi pendapatan negara dari penggunaan frekuensi oleh swasta hanya Rp 86 miliar per tahun.

 

Dan pilihan multiplekser tunggal (single-mux) dalam penyiaran digital yang otoritasnya diserahkan kepada negara adalah pilihan yang terbaik untuk kepentingan publik karena dengan pola mux tunggal (single-mux), akan terjadi penghematan spektrum frekuensi radio untuk keperluan penyiaran komersial sehingga akan ada sisa frekuensi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan penyiaran non-komersial dan kepentingan komunikasi non-penyiaran.

Migrasi ke penyiaran digital dinilai mampu memberikan peluang usaha dan penataan industri siaran yang lebih adil bagi masyarakat. Selain itu publik bisa memperoleh keuntungan dalam penyiaran digital khususnya untuk mendukung kepentingan penyiaran non-komersil seperti untuk pendidikan, kesehatan, anak-anak hingga penanganan bencana alam.

Alotnya, pembahasan RUU Penyiaran dinilai sarat kepentingan politik,  pasalnya, pembahasan RUU Penyiaran itu dilakukan dua tahun menjelang Pemilu 2019. Meski ditargetkan selesai akhir tahun 2017, toh Sandy Nayoan, staf ahli Komisi I Ftaksi PKB, yang hadir dalam Semiloka ini berani menjamin pembahasan RUU Penyiaran masih harus menunggu hingga masa reses anggota dewan berakhir awal Januari 2018 nanti.

“RUU ini pertama kali dibahas oleh Komisi I DPR pada 2010. Kala itu, DPR telah mengadopsi 80 persen dari draf yang disodorkan publik. Namun, hingga akhir 2014, pembahasan revisi tak kunjung kelar dan dilanjutkan pada tahun berikutnya. Tahun ini, RUU tersebut kembali ramai dipersoalkan” papar Sandy panjang lebar.

Lebih jauh Sandy Nayoan mengemukakan bahwa penerapan single-mux memungkinkan dengan dasar perintah Undang-Undang Dasar 1945. Karena filosofi sumber daya alam, air, tanah, udara adalah milik negara untuk kepentingan masyarakat. Frekuensi masuk kategori kekayaan tersebut, jelasnya.

Dengan kata lain, jelas  Sandy, frekuensi merupakan sumber daya alam yang terbatas sehingga negara harus hadir dalam pengelolaan. Namun, dia melanjutkan, peran sektor swasta tidak bisa dihilangkan. “PKB menghendaki dikembalikan dahulu ke aturan hukum sebenarnya. Baru kemudian boleh negara mengatur frekuensi, tapi tidak boleh membuat swasta menjadi mati,” tegas Sandy lagi.

Sementara, Wawan SH dari Asosiasi Televisi Siaran Indonesia (ATVSI), meminta DPR memperhatikan industri penyiaran yang melakukan investasi terlebih dulu, harus memperhatikan effort industri yang sudah existing. Dan Wawan meyakini single mux sarat dengan nuansa monopoli yang kental. “Karena banyak ke khawatiran dengan single mux ini dimana pemancar akan mudah di block dengan tiba-tiba, “ tegas Wawan. (MN/KH foto dok KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Event

‘Road To Iboma’, Pemutaran 10 Film Box Office dan Master Class. Ini Jadwalnya

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – SCTV menggelar ajang tahunan bergengsi bagi insan perfilman Indonesia, Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA).

IBOMA 2020 akan menganugerahkan 17 penghargaan untuk 10 film terlaris sepanjang tahun 2019. Proses penjuriannya melibatkan tujuh sineas yang telah banyak berkecimpung dan berkontribusi dalam industri perfilman Indonesia.

Mereka adalah Sheila Timothy (Produser), Ifa Isfansyah (Sutradara & Produser), Maudy Koesnaedy (Aktris), Andy Phulung (Editor), Vino G Bastian (Aktor), Benni Setiawan (Sutradara), dan Darius Sinathrya (Aktor & Produser).

Ketujuh juri ini terlebih dulu menggelar penjurian terbuka dalam acara Road To IBOMA 2020 serta kegiatan Master Class selama 5 hari, terhitung mulai 24 Februari sampai 3 Maret 2020 mendatang.

Selama 5 hari dilakukan pemutaran kembali 10 film box office, yang masuk nominasi IBOMA 2020 ini akan berlangsung di kampus-kampus, seperti Institut Kesenian Jakarta, Universitas Tarumanegara dan Universitas Indonesia, serta kampus Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Road To IBOMA 2020 bermula dari Tom Studio FFTV kampus IKJ selama dua hari, Senin (24/2) sampai Selasa (25/2) mendatang.

Kegiatan ini melibatkan para mahasiswa untuk menyaksikan dua film box office Indonesia, berjudul  Gundala : Negeri Ini Butuh Patriot dan Danur 3 : Sunyaruri. Pada sesi Master Class menghadirkan Vino Bastian dan Andy Phulung, akan  membahas ‘Ruang Post Production Dalam Industri Film Indonesia Dan Peran Aktor Dalam Sebuah Film’.

Kegiatan sama juga berlangsung di Auditorium Juwono Sudarso FISIP, Universitas Indonesia, Kamis (27/2). Para mahasiswa diajak untuk menyaksikan kembali film Dua Garis Biru serta Perempuan Tanah Jahanam.

Kemudian Darius Sinathrya dan Putut Widjanarko akan membagi pengalamannya dalam dunia akting dan memproduseri sebuah film dalam tema “Menjaga Masa Depan Film Indonesia”.

Sementara produser Sheila Timothy akan menceritakan suka duka dalam memproduseri sebuah film dalam tema How To Communicated Your Film Marketing Tools In Film Industry, di Auditorium Gedung M, Unversitas Tarumanegara, Jumat (28/2). Disini para mahasiswa terlebih dulu diajak menyaksikan kembali film Imperfect dan Kuntilanak 2.

Kegiatan Road To IBOMA 2020 akan berakhir di Aula Auvi – Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Selasa (3/3) mendatang.

Pada pemutaran film Habibie & Ainun dan Keluarga Cemara akan dihadiri oleh sutradara Hanung Bramantyo. Selanjutnya Ifa Isfansyah akan bercerita mengenai seluk beluk memproduseri sebuah film dalam sesi “Master Class dengan tema How To Be Director For Film Industry.

SCTV akan memberikan sertifikat bagi setiap mahasiswa yang telah berpartisipasi dalam penjurian terbuka. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Event

Carla Yules dari Sulawesi Selatan Dinobatkan Sebagai Miss Indonesia 2020

Published

on

By

Carla membenahi mahkotanya, didampingi Miss World 2019, Toni Ann-Singh.

Kabarhiburan.com, Jakarta – Carla Yules (23) dari Sulawesi Selatan dinobatkan sebagai Miss Indonesia 2020. Selama setahun ke depan, Carla berhak mengenakan selempang dan mahkota terbaru Miss Indonesia.

Mahkota yang melambangkan semangat juang para wanita Indonesia, disematkan oleh Miss World 2019, Toni Ann-Singh ke atas kepala Carla Yules, pada Malam Puncak Miss Indonesia 2020 yang berlangsung di Studio RCTI+, di Kebun Jeruk, Jakarta Barat, Kamis (20/2) malam.

“Jujur saya merasa sangat bahagia, tapi ini semua rencana tuhan. Saya siap melakukan yang terbaik di ajang miss world 2020,” ujar Carla tersenyum manis, lalu melambaikan tangan.

Carla juga menyebutkan bahwa kemenangannya merupakan kado ulang tahun terindah untuk sang ayah.

Langkah Carla Yules menuju puncak kemenangannya tidaklah mudah. Alumni William Angliss Institut Melbourne  jurusan Patisserie dan Hospitality, untuk menjadi Miss Indonesia, terlebih dulu menyisihkan ratusan wanita cantik pada babak audisi.

Kemudian, bersama 33 finalis lainnya Carla mengikuti masa karantina selama 2 pekan. Liliana Tanoesoedibjo selaku  Chairwoman of Miss Indonesia Organization meyakini bahwa selama karantina, para finalis sudah belajar dengan baik dan sebanyak-banyaknya agar berguna untuk Indonesia.

Suasana gemerlap Malam Puncak Miss Indonesia 2020.

Pada malam puncak Miss Indonesia 2020, Carla Yules berhasil memasuki babak 16 besar.

Pada babak ini, para finalis memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Dewan Juri yang terdiri dari tokoh masyarakat, termasuk artis untuk memasuki babak 5 besar.

Carla terpilih bersama pesaingnya, Miss Sumatera Utara, Miss Jambi, Miss NTT, Miss Sulawesi Selatan dan Miss Bangka Belitung maju ke babak 5 besar. Pada tahap menegangkan ini, Toni Ann-Singh tampil meredakan suasana persaingan ketat.

Wanita asal Jamaica ini berduet dengan solois Andmesh Kamaleng, membawakan dua lagu berjudul Cinta Luar Biasa dan juga lagu I Have Nothing. Sontak seluruh yang hadir dibuat terpesona mendengar suara merdu Toni Ann-Singh.

Kelima finalis sebenarnya sama-sama mampu memberi jawaban lugas atas pertanyaan yang diajukan oleh  Liliana Tanoesoedibjo. Namun pembawa acara Daniel Mananta, Robby Purba dan Amanda Zevannya, meneriakkan nama Carla Yules sebagai Miss Indonesia 2020. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Event

Penampilan Tenang Meli (Jawa Barat) Hasilkan Klimaks yang Manis

Published

on

By

Suara merdu Meli (Jawa Barat) kembali berbuah standing ovation

Kabarhiburan.com, Jakarta – Suara merdu dan pembawaan yang tenang saat membawakan lagu, menjadi berkah tersendiri bagi Meli Nuryani (Jawa Barat).

Kalau pada episode Top 70, Meli dipuji Lesty DA usai menyanyikan lagu Antara Teman dan Kasih. Kini di babak Top 56 Grup 6 Tim Putih, ganti Fildan DA dan Reza DA memberi apresiasi tinggi bagi Meli, usai menyanyikan lagu lawas Derita Diatas Derita.

Tidak tanggung-tanggung. Suara merdu dan penampilan Meli yang tenang saat membawakan lagu ciptaan Noer Halimah tersebut, menghasilkan klimaks yang manis berupa standing ovation dari seluruh Dewan Juri.

Sambil berdiri di atas kursi, Fildan mengekspresikan kekagumannya pada penampilan memukau Meli.

“Kamu berhasil membuat saya merinding berkali-kali” puji Fildan. Sementara Reza menilai penampilan Meli, sangat sempurna.

Mayang (Lampung) terima komentar pedas

Konser yang berlangsung Selasa (18/2) tersebut dibuka oleh penampilan Juana. Duta Sumatera Selatan tersebut langsung disambut positif usai membawakan lagu Di Simpang Jalan.

Lesty DA menilai Juana memiliki karakter suara yang kuat, sehingga setiap lagu yang dibawakan akan memilki warna yang berbeda dari versi aslinya.

Berbeda dengan penampilan Mayang (Lampung) usai menyanyikan lagu Trauma, Lesty DA melontarkan komentar negatif.

“Kenapa memilih lagu ini? Padahal kamu sendiri tidak yakin dalam membawakannya. Menurut saya penampilan kamu malam ini sudah gagal karena pemilihan lagu yang salah,” sesal Lesty DA.

Nasib serupa Mayang, juga menerpa Dul (Sulawesi Selatan). Usai tampil maksimal menyanyikan lagu Baca,  tidak berhasil memikat hati Dewan Juri. Bahkan Dul harus menghentikan perjuangannya di panggung LIDA 2020. Dul mendapatkan nilai polling terrendah. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending