Connect with us

Film

Tiga Hari Lagi, Film Arumi Beredar di Bioskop Tanah Air

Published

on

Kabarhiburan.com, Jakarta – Mengawali tahun 2018 rumah produksi Flying Stars Pictures hadir menggebrak industri film Indonesia dengan menyuguhkan film horor baru besutan sutradara  kawakan spesialis film horor, Nayato Fio Nala.

Nayato memilih para bintang film  beken seperti  Ardina Rasti, Panji Saputra,  Rizka,Maharani, Aditya Suryo, Nadira  Maharani,  Melvionita.  “Kalau kami katakan film Arumi beda dengan film horor yang  lain,  karena ceritanya diangkat dari kisah nyata,”  ujar sang produser,  Valis Akbar usai nonton bareng awak media di bioskop Planet Hollywood XXI Jakarta Selatan.  Senin (8/1).

Sementara Bon Astravita AS  selaku penulis sekenario  mengatakan,  kalau film  Arumi terinspirasi dari kejadian nyata orang-orang yang hilang atau diculik mahluk halus yang menjadi viral dan pemberitaan di internet. “Sebagai penulis saya terinpirasi oleh kisah yang dialami Lily yang pernah diculik mahluk halus di salah satu desa di Bogor,” jelas Bon Astravita yang juga menulis  skenario film horor Lantai  13 (2007).

Seperti kebanyakan korban penculikan mahluk halus, Arumi juga diterlantarkan di tengah  hutan.  Lily pun ditemukan sendirian di sebuah hutan di kawasan  Bogor, Jawa Barat. Lily mengaku diculik oleh hantu perempuan yang  berwajah cantik dan tubuhnya mengeluarkan aroma harum.

“Selama berada di dalam hutan, Lily  memanggil hantu itu dengan nama Arumi. Dari sini pula muncul ide untuk memberi judul film Arumi, ” papar Valis.

Sekalipun hantu Arumi  berwajah cantik, tapi jangan  sekali-kali membuatnya marah.  Karena kalau marah wajah cantiknya bisa berubah menjadi sangat menakutkan.

Saat menggarap Arumi, sutradara Nayato yang  terkenal dengan film horor komedi remaja diarahkan  agar menjadikan Arumi sebagai  horor misteri seperti halnya film Lantai 13.

Bagi penikmat  film Indonesia  akan dibuai oleh alur cerita yang kuat dan nuansa misteri yg menegangkan karena skenarionya ditulis Bon Astravita AS, juga penulis sknenario Lantai 13.

Arumi menceritakan tentang gadis kecil bernama Lily,   yang dipelihara hantu penghuni sebuah hutan untuk menjebak orang-orang yang lewat hutan tersebut untuk dibunuh.

Ceritanya sendiri dimulai. ketika Rasti, mengajak empat sahabatnya mengunjungi villa orang tuanya  yang sudah 15 tahun lebih tidak pernah di kunjungi. Di tengah perjalanan, mereka hampir saja menabrak Lily yang di kejar-kejar oleh sekelompok orang.

Sejak keberadaan Lily di villa, berbagai kejadian aneh mulai terjadi. Mulai dari suara langkah kaki berlari di tangga,  bayangan wajah hantu di kain sprei, bekas cakaran pada gitar yg dirusak, kamera yang menyala sendiri. Puncaknya, ketika Lily mengatakan Arumi ingin Rasti dan teman-temannya harus mati. Kisah Arumi selengkapnya dapat Anda saksikan di bioskop sejak Kamis, 11 Januari 2018.

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Film

Patuh PPKM Darurat, GPBSI Tutup seluruh Jaringan Bioskop

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Para pengelola bioskop serentak menutup kembali pintu bioskopnya, menyusul Pemberlakukan Pembatasa Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di Pulau Jawa dan Bali.

Penutupan dimulai oleh jaringan bioskop CGV sejak 12 Juli 2021. Disusul oleh  bioskop Cinepolis di 63 lokasi di seluruh Indonesia. Sementara jaringan bioskop Cinema XXI melakukan hal yang sama, mulai Jumat, 16 Juli 2021.

Tindakan serupa juga dilakukan oleh bioskop-bioskop anggota Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) lainnya. Sebut saja, Flix Cinema, New Star Cineplex, Dakota Cinema, Bioskop Golden, Bioskop E-Plaza, Bioskop Gajah Mada, Bioskop Surya Yudha Cinema, Bioskop Rajawali, Bioskop BES Cinema, dan lainnya.

Penutupan sementara seluruh bioskop berlangsung sampai berakhirnya PPKM Darurat yang ditetapkan oleh Pemerintah.

Ketua Umum DPP GPBSI H. Djonny Syafruddin, S.H, mengatakan bahwa bioskop sejak awal pandemi selalu taat pada setiap peraturan dan kebijakan, baik yang dikeluarkan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kota maupun Pemerintah Kabupaten.

Bioskop tutup dimulai pada bulan Maret 2020 silam, lalu sempat buka kembali, sebelum akhirnya harus ditutup lagi.

“Padahal, sejak dibuka sampai tutup kembali di masa pandemi ini, bioskop tidak menjadi cluster baru bagi penyebaran Covid-19, karena bioskop menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan telah dilakukan uji laboratorium,” ujar Djonny dalam keterangan tertulis, Sabtu (17/7).

Ketiua Umum GPBSI, Djonny Syafruddin, SH

Djonny menambahkan  bahwa semua bioskop yang menjadi anggota GPBSI telah menutup usahanya, guna membantu program pemerintah dalam upaya menekan penyebaraan Covid-19.

“Kami para pengelola bioskop akan mengupayakan secara maksimal dengan merencanakan ulang jadwal film-film yang akan tayang setelah masa PPKM Darurat berakhir,” kata Djonny.

Ia juga berharap di beberapa daerah yang tidak ada aturan penutupan bioskop, dapat membuka kembali bioskopnya tanpa harus mengajukan ijin lagi pada saat keadaan sudah memungkinkan.

“Kami juga mengharapkan perhatian pemerintah, mengingat besarnya kerugian yang dialami bioskop sejak tutup pada Maret 2020 silam,” pinta Djonny.

Ia mengatakan, walaupun bioskop tutup, pemeliharaan dan perawatan perangkat harus rutin dilakukan, termasuk pembayaran listrik dan gaji karyawan, walaupun memang ada sebagian karyawan yang harus dirumahkan.

“Bentuk perhatian dan bantuan pemerintah daerah, bisa dalam bentuk kebijakan yang pro kepada bioskop, yang selama ini belum tersentuh bantuan pemerintah,” kata Djonny yang menambahkan agar pemda memberikan keringanan untuk biaya listrik, yang merupakan salah satu dari dua komponen biaya terbesar dalam bisnis bioskop.

“Untuk menghindari adanya PHK karyawan, maka pemerintah dapat membantu dalam bentuk keringanan tarif listrik,” ujar Djonny merinci.

Bantuan pemerintah juga diharapkan dari sisi pajak terutama pengenaan tarif pajak hiburan yang rata di seluruh daerah dan adanya insentif untuk karyawan bioskop.

Menurut Djonny, selama penutupan bioskop maka sebagian besar karyawan terpaksa diliburkan. Mereka diberikan upah 50% dari yang biasanya diterima, bahkan ada yang tidak diberikan upah.

Mereka adalah karyawan bioskop dan cafe bioskop yang jumlahnya sekitar 10.175 orang di seluruh Indonesia. Mereka rata-rata menerima upah minimum sesuai wilayah masing-masing. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Kevin Julio dan Yunita Siregar Jadi Pasangan Pemerhati Lingkungan dalam ‘Cerita Kita’

Published

on

By

Kabarhiburan.com – Aktor Kevin Julio bersama Yunita Siregar dan Dian Sidik akan membintangi Cerita Kita. Sebuah drama series tentang edukasi pengelolaan lingkungan hidup, yang diangkat dari cerita  keseharian.

Menariknya, SCTV akan menghadirkan Cerita Kita di ruang keluarga Indonesia, setiap Minggu pukul 12.30 WIB, mulai 13 Juni 2021 mendatang. Usai menonton, segenap penonton pun diajak join dalam diskusi menarik lewat instagram SCTV.

Selain SCTV, penayangan drama series itu merupakan buah kerja sama dari berbagai pihak, yakni Kementerian Komunikasi dan Informasi RI, Kedutaan Norwegia, BBC  serta rumah produksi Screenplay.

Sebelum penayangannya, SCTV terlebih dulu memutar teaser Cerita Kita, dalam jumpa pers virtual, Kamis (10/6). Acara ini dihadiri oleh segenap pendukung mini series berdurasi 60 menit per episode tersebut.

Kevin Julio memperkenalkan karakternya sebagai sosok pemuda bernama Bodo Sejahtera, seorang anak harapan ibunya yang merantau ke Jakarta untuk sesuatu.

Kenyataannya, di Jakarta sedang dilanda musibah banjir, sehingga Bodo kembali lagi ke kampung asal. Di kampung, Bodo terlibat masalah soal isu lingkungan.

“Bodo ini simbol generasi muda yang sebenarnya punya suara untuk melakukan perubahan bersama-sama,” ujar Kevin Julio yang sudah membintangi puluhan sinetron, film dan FTV.

Di desa, Bodo bertemu dengan Tuji, anak Kepala Desa, yang diperankan oleh Yunita Siregar. Tuji adalah gadis terpelajar dan memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan hidup.

“Akhirnya ketemu dengan Bodo yang memiliki visi misinya sama. Mereka sepakat untuk bikin sesuatu untuk lingkungan hidup yang lebih baik,” jelas pemain sinetron Hati yang Luka.

Selain Kevin Julio dan Yunita Siregar masih ada Dian Sidik yang memerankan karakter Salah, sosok lelaki yang trendy, tampan, energik dan penuh passion.

“Dia bisa mengejar apa saja keinginannya, termasuk dalam urusan asmara,” ujar Dian Sidik, yang mengaku bahagia mendapat andil dalam series bertema lingkungan.

“Gak melulu percintaan. Kepedulian kita terhadap lingkungan jauh lebih penting, yang semakin kesini banyak yang tidak peduli,” katanya.

Tak sekadar membawakan karakter yang diperankan, Kevin Julio mengaku mendapat  banyakpelajaran berharga, usai menjalani syuting Cerita Kita.

“Salah satu yang paling mengganggu pikiran saya adalah air. Saya baru tahu, baru dapat pengetahuan tentang air bahwa di tahun 2040 kita akan kehabisan air. Saya kepikiran sampai sekarang. Saya kan belum nikah, ya. Gimana nanti anak saya, kan kasihan,” ungkap Kevin.

Sutradara Vemmy Sagita meyampaikan antusis senada. Vemmy bahkan sempat menduga Cerita Kita merupakan sinetron biasa.

“Banyak banget yang bisa saya ambil sebagai pelajaran, yang sebelumnya kita enggak tahu apa-apa. Akhirnya jadi sangat spesial,” ungkap Vemmy yang mengaku suka pada ide edukasi yang dibumbui entertainment yang sangat menghibur.

Vemmy ditantang untuk memvisualkan cerita lingkungan ke dalam gambar dengan cara sangat sederhana dan mudah diterapkan kepada semua orang.

“Tidak akan pernah bosan dan merasa digurui dengan menonton cinta kita. Entertain banget,” pungkas Vemmy. (Tumpak S)

Continue Reading

Film

Prihatin Pada Ekosistem Perfilman Nasional, Lola Amaria: Film Asing Masih Tuan Rumah di Indonesia

Published

on

By

Lola Amaria

Kabarhiburan.com – Bagaimana caranya membuat film Indonesia agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri? Demikian pertanyaan yang mengemuka dalam Sosialisasi BSM Kebangkitan Perfilman dan Bioskop Pasca Program Vaksinasi COVID-19, secara virtual di Jakarta, Rabu (2/6/2021).

Menurut produser film, sutradara, artis dan penggiat perfilman Indonesia, Lola Amaria, pertanyaan sederhana tersebut, memerlukan jawaban yang tidak sederhana. Karena, meski pertanyaan itu acap diulang-ulang, tapi sampai sekarang, pada praktiknya film Indonesia tetap belum mampu menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini.

Yang terjadi, justru sebaliknya. Film impor atau film asing (Hollywood) yang justru menjadi tuan di Indonesia. Karena proteksi atas film nasional dan perlakuan yang diterima film produksi anak negeri, dalam peredarannya ditentukan di pemilik jaringan bioskop secara sepihak.

Yang tentu saja, menjadi rahasia umum, lebih mementingkan film impor yang notabene didatangkannya ke Indonesia, via bendera usahanya miliknya yang lain. Dan oleh karenanya, secara alamiah, jaringan bioskop miliknya, akan lebih mengutamakan peredaran filmnya sendiri. Demi mengembalikan modal dan alasan lainnya, dari pada film Nsional yang hanya “menumpang tayang” di jaringan bioskop miliknya.

“Bagaimana bisa menjadi tuan rumah, jika satu (1) bioskop ada lima (5) layar. Dan empat (4) layar itu, digunakan untuk memutar film asing dan hanya satu (1) layar untuk memutar film Indonesia. Itu namanya film asing menjadi tuan rumah di negeri Indonesia,” kata Lola Amaria dalam sesi Q n A di virtual meeting yang diinisiasi Lembaga Sensor Film (LSF).

Lola menambahkan, bioskop hanya pro pada film yang menguntungkan mereka. Karena sistem yang dibangun pemilik jaringan bioskop sudah berjalan seperti itu, dari lama.

“Atau film yang berbujet promo sangat besar. Apalah kita-kita ini, yang bikin film aja bujetnya kecil,” kata Lola sembari menekankan di masa pandemi yang membekap dunia ini, bukan hanya bioskop yang terkena dampak signifikan. Sektor yang lain, seperti pariwisata, penerbangan, perhotelan, media, juga sektor lainnya juga mengalami pukulan telak yang serupa.

Masih menurut Lola Amaria, media tonton karya kreatif seperti film, bukan hanya ada di bioskop. Ada Over The Top (OTT) dan media digital lainnya, karenanya dia tetap meminta ekosistem perfilman harus mampu dan mulai mencari alternatif penayangan film di luar bioskop yang sangat hegemonis.

Dalam acara yang juga menghadirkan Menteri BUMN Erick Thohir, Ketua Gabungan Pengusaha Bioskop Indonesia (GPBSI) Djonny Syahruddin, dan narasumber lainnya itu, tema Kebangkitan Perfilman dan Bioskop Pasca Program Vaksinasi COVID-19, juga dikritik oleh Lola Amaria.

“Harusnya bertema Kebangkitan Perfilman Indonesia dan Bioskop Pasca Program Vaksinasi COVID-19. Karena yang paling pertama dan utama yang harus diperhatikan adalah ekosistem pendukung utama perfilman Indonesia, yaitu orang-orang kreatif seperti kami, sebagai backbone perfilman Indonesia,” tekan Lola Amaria. (Tumpak S)

Continue Reading
Advertisement

Trending