Connect with us

Budaya

Trans 1000 Jakarta dan PIGIJO Dukung Gebyar Festival Budaya Betawi Cipedak

Published

on

Tari Kinang Kilaras turut meramaikan Gebyar Festival Betawi Cipeda, Minggu (16/6).

Kabarhiburan.com, Jakarta – Tari Kinang Kilaras yang menggambarkan betapa bahagianya wanita Betawi dibawakan oleh lima penari elok, ikut memberi suasana gembira pada perhelatan Gebyar Festival Budaya Betawi, Cipedak, Jakarta Selatan, Minggu (16/6).

Suasana gembira ini terlihat di wajah segenap warga RW 09 Kelurahan Cipedak, Jakarta Selatan. Mereka menyambut penobatan wilayah ini sebagai Kampung Alpukat oleh Walikota Jakarta Selatan, Marullah Matali.

Gebyar festival kali ini berlangsung selama dua hari, sejak Sabtu (15/6) hingga Minggu (16/6). Selama itu pula, warga antusias memamerkan kekayaan budaya Betawi yang sudah terkenal itu. Mulai dari aneka pantun jenaka, musik Gambang Kromong hingga parade andong.

Mereka juga memamerkan aneka kuliner Betawi seperti bir pletok, kerak telor, kembang goyang dan kuliner lainnya yang digelar di sepanjang Jalan Srengseng Sawah.

Perhelatan ini didukung oleh Trans 1000 Jakarta bersama PIGIJO. Keduanya bahkan tengah giat mengangkat potensi pariwisata Kepulauan Seribu.

Claudia Ingkriwang  (tengah)

Claudia Ingkriwang selaku Direktur Pengembangan Pariwisata Trans 1000 Jakarta, menegaskan bahwa Gebyar Festival Budaya Betawi Cipedak menjadi salah satu kegiatan untuk melestarikan kecintaan terhadap budaya Betawi.

Seperti diketahui, budaya Betawi merupakan salah satu daya tarik pariwisata di Jakarta telah menginspirasi Trans 1000 Jakarta dan PIGIJO dan menyatakan siap mendukung upaya Pemprov DKI Jakarta mewujudkan Kepulauan Seribu sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional.

Trans 1000 Jakarta dan PIGIJO, bahkan sudah merencanakan penyelenggaraan Gebyar Festival Budaya Betawi yang akan berlangsung di Kepulauan Seribu.

“Kami sedang menyiapkan tranportasi berupa kapal penyeberangan modern, nyaman dan terjangkau yang akan meluncur pada Juli mendatang,” ujar Claudia di sela-sela acara Gebyar Festival Budaya Betawi, Cipedak, Minggu (16/6).

Sebanyak tiga unit kapal Trans 1000 berkapasitas 130 -150 penumpang yang siap mengantar wisatawan mengunjungi enam pulau di Kepulauan Seribu, yakni Pulau Untung Jawa, Pramuka, Pari, Tidung, Harapan, Kelapa dan Pulau Sembilan,” ujar Claudia.

“Dalam waktu dekat kami segera merealisasikan,” janji Claudia Ingkriwang, didampingi Nasdi (investor), Nana Suryana (Direktur Trans 1000 Jakarta) dan Aga (Direktur Bisnis Development). (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Budaya

Dunia Baru Trie Utami yang Lebih Menantang dan Menyenangkan

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Setelah malang melintang di dunia musik selama puluhan tahun, kini vokalis senior Trie Utami punya mainan baru, yakni dunia teater.

Dikatakan baru, karena terhitung baru dua kali ia tampil di panggung teater. Salah satunya dalam monolog musikal Srintil: Tembang Duka Seorang Ronggeng, yang akan digelar di Theater Salihara, Pejaten, Jakarta Selatan pada 26 – 27 April 2019 mendatang.

Pagelaran di bawah naungan ArtSwara Production ini mengangkat kisah cinta yang tragis  sosok Srintil, seorang penari ronggeng asal Dukuh Paruk, Banyumas. Srintil sendiri merupakan tokoh dari novel berjudul Ronggeng Dukuh Paruk (1982) karya Ahmad Tohari.

Dalam pagelaran tersebut Trie Utami akan merasakan sensasi memerankan 7 karakter berbeda. Sesuatu yang belum pernah dilakukan selama menekuni dunia tarik suara. Tak heran, Trie Utami mengamini bahwa  seni teater memiliki tantangan tersendiri.

“Dunia teater memang dunia baru bagi saya, setelah puluhan tahun malang melintang di dunia musik. Ini jadi tantangan karena saya akan bermain sendiri dan memerankan 7 karakter berbeda,”  ungkap Trie Utami saat jumpa pers di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Selasa (26/3).

Demi sukses memerankan 7 karakter berbeda, Trie Utami mengaku  harus banyak-banyak belajar tentang karakter-karakter diinginkan. Semua ini memberinya kepuasan yang menyenangkan.

“Ini akan jadi sensasi berbeda karena saya diajari untuk memerankan banyak karakter dalam pagelaran ini. Dari situ saya harus bangun dan perankan. Semua itu menarik banget buat saya,” jelas wanita yang akrab disapa Iie ini. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Budaya

Mufakat Budaya Indonesia Serukan Pelihara Kegotongroyongan

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Kami anggota aktivis MBI menyampaikan himbauan, untuk menghentikan praktik diskursif, ujaran bahasa yang tak baik, menjaga sikap dan tindakan yang berpotensi merusak tata hubungan sosial-kultural di masyarakat Indonesia yang sudah dibangun oleh para leluhur bangsa.

Demikian salah satu  pernyataan yang disampaikan oleh Mufakat Budaya Indonesia (MBI) dalam imbauan dan pernyataan yang dibacakan di depan wartawan, di Warung Presiden (Wapres), Bulungan, Jakarta Selatan, Selasa (13/3) sore.

MBI menaungi sejumlah seniman, budayawan, rohaniawan, ilmuwan dan cendekiawan. Sebut saja,  Radhar Panca Dahana, Suhadi Sendjaja, Donny Gahral, Niniek L Karim, Adi Kurdi, Renny Jayoesman, Anto Baret, Tony Q, Olivia Zalianty dan beberapa nama lainnya.

Mereka memberi pernyataan sikap, membacakan sikap, membuat lukisan, dan menyanyikan lagu bertema kebangsaan. Selain menyikapi perkembangan terkini kehidupan sosial, politik dan budaya negeri kita, Indonesia, yang tengah mengalami peningkatan intensitas, jumlah dan kualitas.

MBI pun mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan kontestasi politik, seperti pemilihan presiden dan anggota legislatif sebagai ajang pertempuran di antara kekuatan yang semata hanya untuk nafsu kekuasaan semata.

Mereka juga meminta agar para elit, baik di lingkungan politik, ekonomi, akademik, agama, dan budaya, tidak lagi menginisiasi, menginspirasi, apalagi mengorganisir publik untuk melakukan perbuatan destruktif demi tujuan kelompoknya.

Banyak hal lagi yang disampaikan oleh MBI agar masyarakat bisa kembali bersatu dan harmonis meski menjalani tahun politik seperti ini. MBI pun mengajak masyarakat agar mengingat dan sadar kembali akan sejarah bangsa Indonesia. Dengan begitu, masyarakat bisa kembali harmonis dan sadar, meski berbeda pandangan namun ini demi kemajuan bangsa.

“Kami anggota aktivis MBI menyampaikan himbauan, untuk menghentikan praktik diskursif, ujaran bahasa yang tak baik, menjaga sikap dan tindakan yang berpotensi merusak tata hubungan sosial-kultural di masyarakat Indonesia yang sudah dibangun oleh para leluhur bangsa,” ujar Radhar Panca Dahana selaku kordinator MBI. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading

Budaya

Pesta Raya 2018, Ajang Berekspresi Bagi Seniman Teater Tanah Air

Published

on

By

Kabarhiburan.com, Jakarta – Parade Kebudayaan teater bertajuk Pesta Raya 2018, berlangsung  sejak 21 hingga 30 November 2018 di Auditorium Bulungan, Jakarta,  sudah berakhir dengan sukses.

Sukses lantaran parade seni yang digagas oleh Simpul Interaksi Teater Jakarta Selatan (SINTESA) berkolaborasi dengan JEFRA Foundation ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari pecinta teater di Ibukota.

Selama berlangsungnya Pesta Raya 2018, ada sembilan kelompok pelaku seni teater berekspresi dan berkreasi secara bebas tanpa embel-embel menang dan kalah dalam parade kebudayaan, Pesta Raya.

Penampilan anak muda dari Padepokan Seni Madura dalam Menjahit Kertas

Para seniman teater bersama kelompoknya menyampaikan gagasan mereka, di antaranya kelompok Teater Taman Sandiwara yang mengangkat judul​​ Lembah Ingatan. Adapun Teater Elnama mengangkat tema berjudul​ Magma.

Kemudian, Teater K hadir dengan  Pagi Bening, lalu ada Sanggar Kummis menampilkan  AUM dan Teater Ghanta tampilkan  Side B 47:17 (Speech, Noise and Effect). Pelaku seni teater dari Dapoer Teater – Pontianak mengangkat judul​ Baraing Sang Ayah.

Pada hari lainnya, Sanggar Cita-cita yang mengangkat judul  Kids Zaman Now. Sementara pada hari terakhir tampil anak muda dari Padepokan Seni Madura membawakan judul​ Menjahit Kertas.

Ketua Asosiasi Teater Jakarta Selatan mengaku  puas dengan apresiasi yang diberikan oleh masyarakat.

“Tema yang kami ambil kali ini sangat menarik sekaligus unik, yaitu Bergerak,” jelas Toto Sokle, di sela-sela pementasan Menjahit Kertas di Auditorium Bulungan, Jumat (30/11).

Baginya, teater berupaya menjadi bentuk pe(manusia)an yang selalu memberi gambaran peradaban pada sebuah masa. Peradaban yang terbangun menjadi gambaran bagaimana panjangnya sebuah peristiwa waktu yang diperlukan.

Tujuan jangka panjang dari kegiatan ini,   lebih kepada upaya membangun sebuah ‘teater ‘company, yakni sebuah ruang publik bagi kehidupan dan pementasan teater yang tidak money oriented.

“Hal inilah yang coba kita sampaikan kepada para pemangku kebijakan,” ujar Toto Sokle. (Tumpak Sidabutar/KH)

Continue Reading
Advertisement

Musik

Terbaru

Trending